Melebihi Ekspektasi, Konferensi Lalonget III Tadris Bahasa Indonesia IAIN Madura Berlangsung dengan Semarak
- Diposting Oleh Admin Web Fakultas Tarbiyah
- Jumat, 28 Oktober 2022
- Dilihat 92 Kali
Prodi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, IAIN Madura beserta Ikatan Keluarga Alumni Tadris Bahasa Indonesia, dan Ghancaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menyelenggarakan Konferensi Lalonget III pada hari Kamis, 27 Oktober 2022 melalui Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube. Acara tersebut merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Prodi TBIN, Fakultas Tarbiyah, IAIN Madura. Dalam gelaran kali ini mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Bahasa, Sastra, dan Budaya di Era Merdeka Belajar.”
Acara tersebut menghadirkan tiga pembicara dari tiga kampus berbeda. Ketiga pembicara tersebut, yaitu Dr. Moh Hafid Effendy, M.Pd. selaku Pegiat Budaya Madura dan Kepala Laboratorium, Fakultas Tarbiyah, IAIN Madura, Dr. Iwan Marwan, M.Hum selaku Pakar Linguistik dan Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia, IAIN Kediri, serta Nursalam, M.Pd. selaku dosen Tadris Bahasa Indonesia IAIN Ambon dan Pelatih Ahli Sekolah Penggerak.
Acara Konferensi Lalonget III dimulai pukul 08.00 yang diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia, Agus Purnomo Ahmad Putikadyanto, M.Pd. dan sambutan oleh Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah, IAIN Madura, Abd. Ghofur, M.Pd. sekaligus membuka acara Konferensi Lalonget III.
Dalam sambutan pertama, Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia mengungkapkan bahwa kegiatan Konferensi Lalonget III terselenggara berkat kerja sama yang baik dari tiga pihak, yaitu Prodi TBIN, IKA TBIN, dan Jurnal Ghancaran. Selain itu, kegiatan ini juga untuk memfasilitasi kebutuhan publikasi bagi dosen dan kalangan akademisi. Respon pemakalah dalam mengikuti Konferensi Lalonget III dapat dikatakan melebihi ekspektasi. Hal itu karena antusias pendaftar sebagai pemakalah yang cukup banyak. Peserta Konferensi Lalonget III cukup representatif karena diikuti dari berbagai kalangan, mulai dari guru, dosen, mahasiswa, dan praktisi pendidikan. Peserta juga berasal dari Indonesia Barat, Tengah, dan Timur.
“Kegiatan ini bagi kami merupakan kegiatan yang luar biasa. Karena ini adalah sebuah ajang untuk menyampaikan ide-ide yang brilian, ide-ide akademis yang seharusnya memang menjadi tugas kita sebagai akademisi. Tugas kita sebagai seorang ilmuwan untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan, terutamanya tentang kebahasaan. Kami berharap acara tahunan ini tidak berhenti hanya pada level nasional tetapi juga melangkah pada level yang lebih tinggi dengan mengundang beberapa praktisi-praktisi dari dunia internasional,” ungkap Abd. Ghofur selaku Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah, IAIN Madura.
Dr. Moh Hafid Effendy, M.Pd. sebagai pemateri pertama dalam Konferensi Lalonget III ini menjelaskan tentang Identitas Etnik Madura dalam Ungkapan Tradisional. “Kondisi sastra dan budaya Madura saat ini mengalami penurunan karena tergerusnya sastra lisan Madura akibat modernisasi. Etnik madura mulai menyampingkan ungkapan tradisional serta lemahnya minat pemuda dalam melestarikan kearifan lokal,” ucapnya. Beliau juga menyampaikan bahwasannya alam, lingkungan, benda, dan agama Islam membentuk pola sikap, pola pikir, dan karakter etnik Madura yang direfleksikan melalui ungkapan tradisional, yakni peribahasa (parebhasan).
Sementara itu, Dr. Iwan Marwan, M.Hum. sebagai pemateri kedua menjelaskan mengenai Penelitian Bahasa di Era Merdeka Belajar. Beliau mengungkapkan bahwasannya area penelitian bahasa terdiri dari linguistik terapan, metodologi penelitian linguistik (pendidikan), dan pembelajaran bahasa. Beliau juga mengungkapkan, “Penelitian bahasa terkini menggunakan pendidikan multidisipliner yang memfokuskan pada penggunaan bahasa di ranah sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan hukum,” ucap pakar linguistik tersebut.
Dilanjut pada pemaparan terakhir yang disampaikan oleh Nursalam, M.Pd. selaku dosen Tadris Bahasa Indonesia, IAIN Ambon dan Pelatih Ahli Sekolah Penggerak. Pada kesempatan kali ini, beliau memaparkan materi mengenai Nilai-Nilai Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Merdeka Belajar. Pada sesi pertama acara Konferensi Lalonget III ini juga dilangsungkan sesi tanya jawab. Acara dilanjutkan dengan kegiatan sesi presentasi paralel yang akan dimulai pukul 13.00—15.00.
Rini Yuliastutik selaku salah satu mahasiswa yang mengikuti Konferensi Lalonget III ini merasa bangga. “Penjelasan pemateri bisa saya pahami salah satunya dari pemateri pertama mengenai streotip tentang masyarakat Madura yang mana dari penjelasan tersebut bahwa masyarakat madura tidak semua keras dan kasar. Selain itu, yang paling saya ingat, yaitu orang Madura lebih mengutamakan tingkah laku,” ujarnya (Rosmita Dwimeidini).