Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

fatar@iainmadura.ac.id

INTERNATIONAL ENGAGEMENT FIELDNOTE, “SANGGAR BELAJAR” SUNGAI MULIA SEMENANJUNG MALAYSIA

  • Diposting Oleh Admin Web Fakultas Tarbiyah
  • Kamis, 20 Juni 2024
  • Bagikan ke

International Research and International Engagement,

Gombak, Nilai, Kuala Lumpur, Malaysia,  June 4-11th, 2024 (Chapter 1)

 

 

INTERNATIONAL ENGAGEMENT FIELDNOTE,

“SANGGAR BELAJAR” SUNGAI MULIA SEMENANJUNG MALAYSIA

 

Dosen Pengabdian Internasional

 

Dr. Fathol Haliq, M.Si.

(Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama

Dosen BKPI FT IAIN Madura)

H Mohammad Jamaluddin, M.Pd (Kaprodi BKPI FT IAIN Madura)

Iswatun Hasanah, M.Psi. (Sekprodi BKPI FT IAIN Madura)

Fitriyatul Qomariyah, M.Kom (Kaprodi Matematika FT IAIN Madura)

Fatimatuz Zahroh, M.Pd (Sekprodi Matematika FT IAIN Madura)

Mohammad Hefni, M.Si (Kaprodi IPA FT IAIN Madura)

Selvi Fauziyah, M.Pd (Sekprodi IPA FT IAIN Madura)

 

 

Program ini mengacu pada Indeks Kinerja Utama (IKU) Fakultas Tarbiyah dan IKU Rektor Perubahan Kelembagaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) kepada Universitas Islam Negeri (UIN) Madura. Kinerja ini mengamanahkan kepada stakeholders kepemimpinan Fakultas untuk memenuhi pengabdian internasional. Untuk mewujudkan itu semua pelibatan civitas akademika khususnya Ketua dan Sekretaris Program Studi di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Madura.

Pengabdian internasional difasilitatori Ketua dan Sekretaris Program Studi (PS) Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI), Program Studi (PS) Matematika (MTK), dan Program Studi (PS) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan melibatkan Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama. Kedua komponen pengabdian ini turut aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta reevaluasi dan pelaporan. Di samping itu, pengabdian ini melibatkan stakeholder di Malaysia, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Malaysia, Sanggar Sungai Mulia 5 Semenanjung Malaysia.

***

Pengabdian internasional dilaksanakan di Sanggar Belajar Sungai Mulia Semenanjung, Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis, 6 Juni 2024. Secara kronologis pengabdian ini dimulai dari perjalanan mulai dari tempat istirahat Tim Pengabdian sampai lokasi pengabdian, Gombak Kuala Lumpur. Perjalanan ditempuh hampir satu jam dengan menaiki Gocar dari Pudu99, Pudu Central Kuala Lumpur menuju lokasi sanggar. Sebelumnya, hari Rabu, 5 Juni 2024, mulai jam  kami mengadakan persiapan dan evaluasi atas beberapa perencanaan yang telah dilakukan mulai dari IAIN Madura.

Perjalanan ini semakin memberikan nuansa berbeda ketika kami berjumpa dan disambut oleh beberapa mahasiswi yang sedang KKN sebuah kampus dari Jawa Barat. Sambutan ini bertambah sempurna setelah pertemuan dengan Pengasuh Sanggar Belajar Gombak, Nyai Mimin Mintarsih dan suaminya. Sebagai key-informan, Nyai Mimin menceritakan semua hal berkaitan dengan sejarah, perjalanan sanggar sampai advokasi beliau terhadap anak-anak internasional sebagai peserta didik di Sanggar Belajar tersebut (secara khsusus kisah ini akan ditulis tersendiri dengan mengutip berbagai sumber).

Ketika pengabdian ini sedang berlangsung sanggar ini dalam suasana liburan. Menurut pendiri PCI Muslimat Nahdlatul Ulama’ (NU) Malaysia ini bahwa liburan terjadi karena untuk area perumahan termasuk sanggar ini telah diumumkan sehari sebelumnya bahwa hari itu air sedang mati karena adanya perbaikan dari Pusat Penyumplai Air. Hal ini tentu sederhana tetapi bagi nyai tersebut sangat riskan jika air sedang mati sementara aktivitas belajar berlangsung sehingga mengganggu bagi anak-anak yang sedang belajar dengan beragam aktivitas mulai belajar sampai ke kamar mandi. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya untuk hari itu aktivitas belajar diliburkan karena air penyumplai air sedang dimatikan oleh pemerintah negara bagian, hanya ada lima orang siswa yang sedang belajar extrakorikuler, menari bersama lima orang mahasiswi yang sedang KKN di Sanggar Belajar Gombak.

Menariknya dengan inisiatif dari Nyai Mimin, pengabdian dengan tema “Stress Akademik pada Pembelajaran Matematika dan IPA” berhasil mendatang 25 anak terdekat dengan Sanggar Belajar. Sambil menunggu kedatangan anak-anak tersebut, kami berenam berbincang tentang latar belakang anak-anak Sanggar Belajar, pendirian Sanggar Belajar sampai bagaimana advokasi Nyai Mimin dan keluarga untuk menjadikan mereka sebagai peserta didik.

“Bagi kami, dengan tidak melihat latar belakang orang tua, bapak dan ibunya anak-anak, kami menginginkan anak-anak tersebut tetap belajar. Mereka masih memiliki masa depan yang lebih baik. Mereka sebaiknya belajar di dalam kelas. Hal ini dipilih karena jika mereka bersama orang tuanya, sedangkan bapak-ibunya bekerja, lalu bertemu lagi dengan mereka pada sore ataupun malam hari maka akan menjadi apa mereka kelak? Tanggung jawab ini kami ambil sambil kami melakukan pembenahan mulai dari masalah akte sampai kelanjutan belajar mereka kelak setelah selesai dari Sanggar Belajar ini,” katanya Nyai Mimin didampingi oleh suaminya.

Bagaimana jika mereka tidak belajar. Akan menjadi apa kelak? Siapa yang akan menanggung dan bertanggung jawab jika mereka kelak menjadi penjahat dan masalah sosial lainnya di masyarakat. Siapa yang akan menyelesaikannya? Demikian beberapa pertanyaan yang seringkali diajukan oleh Nyai Mimin dan keluarga ketika dipertanyakan oleh KBRI waktu awal mula pendiriannya. Pertanyaan itu pun dipahami oleh stakeholder KBRI yang akhirnya dengan berbagai pertimbangan kelembagaan dan kenegaraan, Sanggar Belajar yang pertama di Malaysia didirikan di Gombak.

“Suatu hari ada keluarga datang ke tempat ini. Bapaknya berkata bahwa anaknya yang kedua akan belajar di lembaga ini. Sementara anak pertama tidak ingin belajar, tetapi hanya ingin bekerja bersama bapaknya. Saya tanyakan kepada bapaknya, bagaimana dengan anak pertama, apakah saudara biarkan bekerja tanpa belajar. Ini masih anak-anak lho Pak. Bapak akan kena pasal tentang mempekerjakan anak-anak di bawah umur,” cerita suami Nyai Mimin mengisahkan keseharian mereka di lingkungan sanggar yang berada di area seperti perumahan tersebut.

Awalnya kami menghimpun beberapa anak-anak. Belajar di depan rumah ini. Kami kepanasan dan kehujanan. Kami selalu berdoa semoga Allah memberikan tempat yang layak bagi anak-anak untuk terus belajar. Entah bagaimana tetiba rumah di samping kami tidak disewa oleh penyewa lamanya. Pemilik rumah bercerita bahwa jika mau menyewa, sanggar boleh menyewanya untuk lantai dasar. Akhirnya kami memiliki tempat belajar yang terhindar dari kepanasan dan kehujanan, tetapi dengan 150_an anak tentu tempat tersebut tidak memadai. Akhirnya kami berdoa kembali semoga  lantai atasnya tidak disewa kembali oleh penyewanya. Sungguh Allah mendengar doa kami. Tidak beberapa lama penyewa rumah tersebut tidak melanjutkan sewa sanggar, sehingga kami memiliki sarana belajar yang cukup memadai, di samping rumah kami, demikian nyai alumni Tebuireng tersebut menceritakan awal berdirinya Sanggar Belajar Gombak.

Kendala lainnya mereka, peserta sanggar belajar memiliki keunikan dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Keunikannya hampir semua anak sanggar mempunyai kesukaan terhadap matapelajaran eksakta, matematika dan IPA. Bahkan ketika diadakan lomba se Malaysia, salah satu siswa sanggar memenangkan pertandingan. Namun, kelemahan mereka bahwa kebanyakan dari mereka belum bisa menulis dan membaca dengan baik.

***

Berdasarkan preliminary research inilah, ditambah dengan beberapa link pemberitaan tentang Sanggar Belajar Gombak, serta perencaan dari Tim Pengabdian Internasional dan Penelitian Internasional, kami memulai pengabdian. Pengabdian ini berbasis preliminary research, indepth- interview, dokumen berupa foto-foto yang kami diklasifikasikan, diinterpretasikan, reinterpretasi, sampai menemukan hal yang sesuai dengan tujuan pengabdian ini.   (bersambung…)

 

 

Foto

Tim Pengabdian dan Penelitian Internasional

Wawancara dengan Nyai Mimin Mintarsih dan suami

Pendiri dan Pemilik Sanggar Belajar Sungai Mulai 5

Kualalumpur Malaysia